Book Review | Dear John
Tidak heran jika banyak wanita menyukai karya seorang
Nicholas Sparks.
Sebenarnya saya bukanlah tipe wanita yang menyukai cerita
romansa dan untuk menyelesaikan buku ini butuh waktu 6 tahun. Ya 6 tahun.
Hahaha… Saya membeli buku ini saat saya masih duduk di bangku kuliah di tahun
2010 dan saya baru membacanya lagi tahun ini, 2016.
Awalnya memang tidak terlalu menarik ya. It’s my opinion
loh.. Tapiii seiring makin berkembangnya perasaan antara John dan Savannah,
semakin dalam perasaan mereka, dan nasib mempermainkan mereka, saya makin
semangat membacanya. Dan dalam waktu 2 hari saya bisa menyelesaikannya.
Kalau baca cerita cinta sejati kayak gini, selalu berhasil
bikin saya bertanya-tanya. Apakah cerita ini nyata? Mungkinkah ada di kehidupan
nyata? Hmmm… It’s too good to be true I think.
Anyway, saya berani bilang bahwa lebih menarik bukunya
daripada filmnya. Meski dalam film tersebut ada Channing Tatum. Menurut saya,
sebuah film tidak dapat menyampaikan perasaan John dengan baik. Bagaimanapun
kata-kata menyampaikan lebih baik daripada ekspresi. Bukan berarti acting para
pemeran kurang baik ya. Dan… Tidak mungkin sebuah film dapat menyampaikan
cerita yang lebih detail dibanding novelnya. Bagaimanpun sebuah script harus
dibuat cepat dan tepat, tidak bertele-tele kalau tidak penonton bisa ngantuk.
Saya sarankan lebih baik nonton dahulu baru baca novelnya.
Karena jika kamu baca novelnya dulu dan baru nonton, pasti akan banyak
kekecewaan. Koq ceritanya jadi begini. Koq jadi begitu.
Intinya saya salut dengan perasaan John terhadap Savannah. Cinta itu tidak egois dan tidak harus
memiliki. Kebahagiaan tercipta bukan karena kita bersama orang yang kita cintai
namun melihat orang yang kita cintai bahagia.
Kalau ada lelaki seperti itu di dunia ini, saya rasa saya tidak
akan melepaskannya.
xoxo,
Acid
.jpeg)
Comments
Post a Comment